![]() |
| Raden Mas Haji Oemar Said Tjokroaminoto (H.O.S. Tjokroaminoto) |
Tidak asing rasanya bagi kita sebagai Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia mendengar julukan Sang Guru Bangsa yakni Haji Oemar Said Tjokroaminoto, sebab pengaruh pemikiran dan karakter yang beliau contohkan kepada murid-muridnya seperti: S. M. Kartosuwiryo, Soekarno, Musso, dll. Itulah yang menjadi landasan bahwa pemikiran H. O. S. Tjokroaminoto itu tentang Islam, Nasionalisme dan Sosialisme.
Pemikiran pertama Sang Guru Bangsa tentang islam “Islam bagi H.O.S. Tjokroaminoto bukan hanya identitas keagamaan, tetapi menjadi dasar dalam menjalankan perjuangan. Hal ini dapat kita korelasikan dengan pesan ahli tafsir yakni Fakhruddin ar-Razi ketika menginterpretasikan ayat صُحُفِ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى dalam (QS. Al-A’la ayat 19) sering mengutip pesan utamanya:
ينبغي للعاقل أن يكون حافظا للسانه عارفا بزمانه مقبلا على شأنه
tentang pentingnya orang berakal memahami perkembangan zamannya dan menunaikan tugas-tugasnya. Dalam konteks kebangsaan, perjuangan tidak boleh jauh dari nilai-nilai Islam. Artinya, seorang muslim harus mampu membaca zaman, memahami persoalan bangsa, kemudian mengambil peran untuk menyelesaikannya dengan tetap berpegang pada nilai keislaman.”
Pemikiran Kedua Sang Guru Bangsa tentang Nasionalisme, Nasionalisme adalah paham kebangsaan (Persatuan bangsa) dan Cinta Tanah Air. “Dalam konteks perjuangan H.O.S. Tjokroaminoto, kecintaan terhadap tanah air tidak bertentangan dengan Islam. Justru seorang muslim dituntut untuk memberikan kontribusi terhadap bangsanya. Hal ini dapat kita lihat dalam narasi yang menyebutkan bahwa Indonesia bukan negara Islam, tetapi umat Islam tetap wajib mencintai Indonesia dengan empat pilarnya, yang kita singkat PBNU: Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, UUD 1945. Dalam potret cinta tanah air, Sayyidina Umar bin Khattab RA pernah menegaskan betapa krusialnya rasa cinta tanah air demi kelangsungan hidup peradaban manusia:
لَوْلَا حُبُّ الْوَطَنِ لَخَرِبَ بَلَدُ السُّوءِ، فَبِحُبِّ الْأَوْطَانِ عُمِرَتِ الْبِلْدَانُ
“Seandainya tidak ada cinta tanah air, niscaya akan rusaklah negeri yang buruk. Maka dengan mencintai tanah air, negeri-negeri menjadi makmur.”
Dari ungkapan ini kita belajar bahwa dorongan untuk membangun, memajukan, dan menjaga kedamaian suatu bangsa bermula dari rasa cinta terhadap negeri tersebut. Ini sama halnya Nasionalisme sang Guru Bangsa, yaitu nasionalisme yang diwarnai oleh nilai keislaman.
Pemikiran Ketiga Sang Guru Bangsa tentang Sosialisme, “H.O.S. Tjokroaminoto mencoba mempertemukan gagasan keadilan sosial dengan nilai-nilai Islam. Dalam perspektif Islam tentang مقاصد الشريعة, kehidupan manusia memiliki beberapa hal yang harus dijaga, yaitu jiwa, akal, keturunan, harta, dan agama. Lima hal ini menunjukkan bahwa Islam memiliki perhatian terhadap kemaslahatan manusia.
Kemudian konsep ini dapat kita korelasikan dengan Hablumminallah dan Hablumminannas. Hablumminallah berarti hubungan manusia dengan Allah yang menjadi dasar moral perjuangan. Sedangkan Hablumminannas merupakan konsekuensi sosialnya, yaitu bagaimana keimanan tersebut diwujudkan dalam hubungan yang baik dengan manusia, termasuk menegakkan keadilan, menjaga hak, membantu yang lemah, dan menolak penindasan.
Dengan demikian, sosialisme yang dibicarakan Tjokroaminoto tidak semata-mata berbicara tentang ekonomi, tetapi juga tentang keadilan sosial yang memiliki dasar spiritual. Jadi, perjuangan sosial harus berangkat dari tauhid dan diwujudkan dalam kepedulian terhadap sesama.”
![]() |
| Penulis: Sahabat Umar Faruq (Demisioner Ketua Rayon Tarbiyah 2025-2026) |


0 Komentar